Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Mei 2012

KEBAHAGIAAN CINTA


Cerpen Remaja
Sekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu.

Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu... selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.

“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.

Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.

“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,

“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.

“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.

“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.

Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.

Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.

“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.

Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.

Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.

“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?

Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.

Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.

Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.

Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.

Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.

Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin... senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.

Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.

Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.

“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.

Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.

Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.

Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata... Aldo?

“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.

“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.

“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.

Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!

Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu... harusnya aku sadar...

Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.

“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.

“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.

“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.

CERPEN CINTA SEDIH


Saat pertama kali gadis itu menginjakan kakinya dirumahku,  aku sudah menyukainya. Tak peduli bahwa ia adik angkatku, aku sangat menyukainya. Wajah lugunya serta senyum polos yang selalu ia tunjukkan membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku menahan perasaanku karena aku tau mama dan papaku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.
Avia, gadis kecil yang dibawa orangtuaku dari sebuah panti asuhan itu kini tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan lembut. Dari awal, aku tidak pernah bersikap baik kepadanya, aku tidak pernah menjawab ketika ia bertanya, aku tidak pernah menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama, dan aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya...aku lakukan semua itu supaya aku tidak merasa bersalah karna telah menyukai adik angkatku sendiri.
Bahkan Raina, teman dekatku sejak SD menyalahkan perasaanku. Ia bilang bahwa aku rupayanya sudah gila. Ia bilang kenapa tidak orang lain dan kenapa harus adik angkatku. Aku hargai setiap perkataannya karena dia adalah teman baik ku, tapi aku bisa berkata apa? Inilah aku! Hatiku tidak akan berubah walau seluruh orang di dunia berkata cintaku ini mustahil!



“kakak! Ka Niko! Ditunggu mama sama papa untuk makan malam dibawah. Cepetan ya kak!” Seru Via yang membuyarkan lamunanku saat itu.
Aku tidak menjawabnya, aku malah pergi ke rumah Raina dan makan malam disana. Orangtua Raina tidak keberatan harus semeja makan denganku karena mereka juga kenal dekat dengan keluargaku dan aku sering sekali berkunjung. Setiap hatiku sedang gundah gulana aku selalu menceritakannya pada Rai.
“gue ga tau ko mau kasih nasehat ke elo kaya gimana lagi...” ucap Raina merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Aku mendekatinya dan menarik bantal itu dari wajahnya. “ayolah Rai! Gue mohon! Gue bener-bener suka sama Via. Gue juga ga tau kenapa Tuhan harus menakdirkan dia jadi ade angkat gue. Gue bingung banget Rai!”
“ini nasehat terakhir ko. Ada 2 pilihan. Lo mau nyatain perasaan lo atau mundur dan merelakan semuanya.” Yang dikatakan Raina memang benar. Aku tidak punya pilihan lain. Menunggu terlalu lama membuatku jenuh dan lelah. Aku hanya punya 2 pilihan itu dan harus segera ku putuskan yang mana yang akan aku ambil.
“gue nginep dirumah lo dulu ya Rai malam ini. Gue mau mikirin keputusannya.” Ujarku lalu menarik selimut dan bersiap tidur.
Tiba-tiba Raina mendorong punggungku dengan kakinya hingga aku terjatuh dari tempat tidurnya. “lo gila ko?! Tidur dibawah! Yang bener aja masa tidur bareng sama gue!” omel gadis itu. Terkadang aku berfikir dia sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu. Aku tertawa dalam hati dan menuruti perkataannya.
“iya! Kejam banget sih lo kaya Belanda!” ledekku.
“biarin aja! Daripada elo bodoh banget ga pernah nyadar!” setelah membalas ledekanku Raina langsung menutupi dirinya dengan selimut. Apa maksud dia? Ngga pernah nyadar? Apa dia ngeledek aku yang ga pernah nyadar kalau menyukai Via adalah suatu kemustahilan?
Keesokannya aku berangkat sekolah bersama dengan Rai. Kami pergi dengan kendaraan umum. Menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Aku menggandeng tangan Rai ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan menyebrang melalui zebra-cross. Namun Raina menghempaskan tanganku ke udara. Ia melepaskan genggamanku dan berlari. Saat aku akan mengejarnya lampu itu berubah warna, kulihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi tapi Rai tidak menyadarinya sampai truk itu mengklaksoninya.
Aku berteriak sekencang-kencangnya. “RAIINAAAAAA!!!”

“She’s lost in the darkness, fading away..I’m still around here screaming her name...”
*Within Temptation – Lost*
Syukurlah...syukurlah aku berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, aku tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap kaki dan tanganku membeku, aku masih terus mendekapnya erat. Dan aku bisa lihat ketakutan yang mendalam dimatanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi kami.
“udah Rai, udah ngga apa-apa. Gue berhasil menyelematkan lo. Lo ga perlu takut lagi Rai.” Ucapku sambil membelai rambutnya.
“t-terimakasih Ko...terimakasih.” jawabnya terbata-bata. Raina memegang tanganku dengan kencang, dan ia menarik-narik seragamku. Untuk itu aku berinisiatif mengantarnya kerumah dan menyuruhnya beristirahat.
Setelah kejadian itu aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang sekarang aku prioritaskan adalah mengungkapkan perasaanku pada Avia. Malam harinya aku teringat akan nasihat Rai, bahwa aku mempunyai 2 pilihan. Dan disaat aku ingin mengutarakan perasaanku, kenapa sekarang aku merasa ragu akan hatiku, kenapa aku ragu dengan perasaan yang sudah lama aku pendam ini? Aku terus memikirkannya. Akhirnya ku putuskan untuk tetap mengatakannya pada Via. Kemudian aku pun mendatangi kamarnya.
“ka Niko, ada apa? Tumben kakak ke kamar aku?” ujarnya yang sedang memegang buku pelajaran Biologi. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Via, tolong dengerin kakak...karna kakak gak akan mengulangnya.” Kataku tak berani menatap adik angkatku itu.
“iya, Via pasti dengerin kakak. Kenapa ka? Ada apa?” jawabnya penuh rasa penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah. “aku sayang sama kamu Via.”
“aku juga sayang kakak. Aku kira selama ini kakak benci sama aku. Tapi aku lega ternyata kakak sayang sama aku.” Avia menjawabnya dengan mudah sambil menorehkan senyum polos diwajah cantiknya kemudian memelukku.
Aku kembali menarik nafas dan berusaha menjelaskan bahwa perasaanku ini lebih dari rasa sayang seorang adik-kakak. “kakak sayang kamu sebagai seorang wanita Via! Aku cinta kamu!” Tampak wajah Avia begitu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak menjawab sepatah kata pun. Ia melepaskan pelukannya. Ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Meskipun aku telah ditolak, tapi aku merasa beban yang ku pikul selama ini telah sirna. Walaupun aku tidak langsung bisa melupakan perasaan yang sudah sangat lama ku pendam tapi aku yakin perlahan waktu akan mengembalikan keadaan seperti semula. 

“Nobody said it was easy..no one ever said it would be this hard, Oh take me back to the start...”
*Coldplay – Scientist*

            Keseharianku berjalan seperti biasanya, untunglah ada Raina yang selalu bersama denganku. Sejak kejadian itu Via tidak berubah, ia tetap menegurku dengan senyum cerianya. Aku sungguh bersyukur dia tidak marah terhadapku dan kami pun perlahan menjalin hubungan selayaknya adik-kakak. Dan tahap demi tahap, perasaanku terhadapnya memudar. Mungkin kalau aku menceritakan kisah konyolku ini kepada semua orang mereka pasti akan berkata “yang kau alami itu Cinta Buta.” Jika kembali ke masa lalu aku jadi geli sendiri mengingat bagaimana bisa aku menyukai adik angkatku.
            Namun aku tak sependapat bahwa Cinta itu Buta. Cinta tetaplah cinta. Cinta itu suci. Terkadang manusia seperti akulah yang tidak pandai melihat ataupun menyadari yang sedang ku alami benar cinta atau hanya perasaan ingin memiliki semata. Karna jika berbicara tentang cinta, berarti kita juga membicarakan 2 orang yang memiliki perasaan yang sama. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Dan cinta yang pernah aku miliki dulu adalah “Aku cinta kamu, tetapi kamu tidak cinta aku.”
            “hayooo!! Ngelamun aja sih ko!” ternyata Raina yang mengagetkanku dari belakang. Tanpa rasa bersalah ia malah mencubit pipiku dan cengengesan.
            “awhh.. sakit tau Rai!” keluhku sambil mengusap pipiku yang merah karena dicubit gadis satu itu.
            “masih ada rasa yang tertinggal sama adik angkat?” ucapan Raina membuatku tak dapat bergeming. Keheningan menghiasi kami saat itu. Tapi tindakan Raina lebih-lebih membuatku terkejut. Ia mendekatiku dan memelukku. Aku...mataku seperti hampir mau copot karna saking kagetnya. Aku tak bisa begerak, tubuhku mati kukuh, namun aku merasakan sesuatu...suatu kehangatan yang mampu menenangkan hatiku...
            “jangan menderita karna dia, karna banyak orang lain yang berlomba untuk menyayangi elo Ko, termasuk gue...” setelah mengutarakan kalimat itu lalu ia pergi, sedangkan aku...aku tak dapat mengatakan apa pun...aku tak tau mengapa jika berada didekatnya aku hanya bisa terdiam.
            Ya, aku memang masih menyukai Avia. Tapi, aku kira seseorang baru saja menghapus perasaan itu. Seseorang yang tidak kuduga... bahwa ia mampu melakukan hal besar terhadap diriku. Aku tidak peka selama ini. Maafkan aku Rai...

Aku ingin kau selalu ada untukku...
Yah, walaupun tanpa ku katakan kau pasti selalu menemaniku...
Namun kali ini berbeda,  aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi...
Aku tidak benar-benar menyukai Avia, dulu itu hanya perasaanku sesaat karna kau pergi meninggalkan aku tanpa kabar sedikitpun...


                “Rai! Rai mau kemana! Rai kan tau Niko ga punya temen selain Rai!”
            “maafin aku Ko, tapi aku harus tinggalin kamu lagi. Semua ini aku lakukan supaya kamu menyadari siapa yang benar-benar kamu cintai. Da-dah Niko...”
            Suara itu...wajah Raina...tapi mau pergi kemana lagi dia?!
            “jangan pergi lagi Raiiiii !!!” jeritku yang terbangun tengah malam dari mimpi yang begitu menyesakkan dadaku. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu? Pikirku tak percaya. Ku tengok handphone yang saat itu bergetar. Ternyata sms dari Raina.

From : Raina Denniele
Hei, ko. Maaf membangunkanmu tengah malam, tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong datanglah kerumahku nanti pagi, aku ingin mengucapkan satu permintaan.


            Ketika aku membalas sms-nya, tidak ada laporan terkirim sama sekali. Berulang-ulang aku mengirimnya hasilnya tetap sama. Karena penasaran, akhirnya aku menelfonnya...tapi nomernya tidak aktif. Aku benar-benar bingung. Permainan apa lagi ini Rai?! Gumamku.
            Sial, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karna perempuan merepotkan itu. Aku terus menggerutu sepanjang perjalan kerumah Raina. Saat mengendarai mobil tiba-tiba melintas seekor kucing yang membuatku terhentak kaget dan aku langsung menginjak rem. Aku keluar dari mobil dan syukurlah aku tidak menabrak binatang itu, ketika berbalik menuju mobil aku kembali dibuat terkejut... Raina?!
            “Rai, kok lo bisa disini? Bikin gue kaget aja!” ucapku agak sedikit terkejut.
            “ah, kebetulan aja ko. Gue abis kerumah seseorang.” Tumben sekali dia tidak cerwet. Hari ini Rai kelihatan agak aneh.
            “ayo gue anter lo pulang Rai.” Kataku menggandeng tangan Raina.
            “jangan sekarang ko, gue mau pergi ke suatu tempat sama lo, boleh kan?” pintanya.
                “karna sekarang hari minggu kayanya boleh juga sekali-kali kita jalan, lagipula udah lama kita ga jalan bareng. Okedeh, lo mau kemana? Gue anter.” Tuturku yang memasuki mobil bersama Rai.
                “gue...mau ke taman hiburan ko.”
                “wah seru tuh! Gue juga udah lama ga kesana, terakhir kali sama lo pas kita umur 10 tahun hehe.” Lalu aku langsung menancap gas menuju salah satu taman hiburan di daerah Jakarta Utara. Kami  menaiki semua wahan, mulai dari yang kekanak-kanakan seperti gajah terbang, bom-bom car, istana boneka, sampai yang menyeramkan seperti halilintar, tornado, dan kora-kora. Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini, dan aku merasa sangat nyaman...nyaman berada di dekat Rai.

“All my agony fades away when you hold me in your embrace...”
*Within Temptation – All I Need*
           
            Wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Jujur, sebenarnya aku paling takut naik wahan ini dari dulu. Tetapi aku bukan anak kecil lagi, jadi aku memberanikan diri agar Raina tidak menganggapku pengecut.
            “lo ga takut lagi ko?”
            “enggaklah! Gue kan udah gede! Emangnya gue masih anak-anak!”
            Raina tertawa kecil, lalu ia berkata. “baguslah kalau begitu. Hari ini gue seneng banget ko, terimakasih ya..” Ia menghampiriku dan memelukku. Namun sekarang aku tidak hanya terdiam, aku membalas pelukannya. Dengan erat aku mendekap gadis itu. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis ketika ia melepas pelukannya.
            “lo masih inget kata-kata gue kan ko? Jangan menangis untuk orang yang gak benar-benar lo cintai. Jangan menderita karena seseorang yang lo cintai meninggalkan lo. Karena gue akan selalu ada untuk lo, sampai kapanpun...”
            Sungguh, aku tidak dapat menahan tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir dipipiku. Aku merasa sedih saat Raina mengatakan hal itu. Kemudian ia kembali memelukku, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Ini adalah momen yang tidak akan kulupakan.
            Setelah puas seharian jalan bersama Raina aku pun mengantarkannya pulang, tapi aku tidak sampai ke rumahnya, hanya di depan gapura perumahan karna aku sudah keburu cape dan ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidur. Sesampainya dirumah aku mendapati orangtuaku dan Avia dengan wajah gelisah sedang duduk diruang keluarga. Begitu melihat aku sudah pulang, mama langsung menghampiriku.
            “ya ampun Niko! Kamu kemana aja sih dari pagi?! Mama telfonin tapi nomer kamu gak aktif! Kamu tuh habis dari mana?!” yang namanya mama kalo udah ngomong ga ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu.
            “aku abis...” belum selesai menjawab Avia menyela pembicaraanku dengan mama.
            “kakak Rai meninggal kak. Dia kecelakaan tertabrak Truk tadi pagi.” Sela adikku.
            Gelap, dunia ini seakan berubah kelam bagiku. Bagaimana mungkin?! Tadi pagi, hah?! Sedangkan Raina baru saja menghabiskan waktu bersama denganku! Mereka pasti salah! Mereka pasti membohongiku! Aku jatuh tersungkur, membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. 
Rai, mana mungkin...mana mungkin ini terjadi kepadamu, iya kan Rai?! Jawab aku Raina?!!!
Tolong jangan tinggalkan aku Rai...


            Keesokan paginya aku dan keluarga mendatangi rumah Raina yang terpampang bendera kuning. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memberikan doanya. Disamping peti kayu yang dingin itu aku melihat Om Johan dan Tante Lucy sedang menangisi anak mereka. Terutama Tante Lucy, ia tampak kehilangan dan Om Johan berusaha terlihat tegar sambil menyemangati istrinya.
            Kaki ku tidak mampu bergerak selangkah pun. Rasanya aku tidak sanggup harus melihatnya. Aku tidak berani menghadapi semua ini sendiri. Tapi Avia menggengam tanganku, ia tersenyum padaku seolah memberikan kekuatan kepadaku.

Melihatmu terbujur kaku berhiaskan gaun putih dan bunga yang kau pegang... kau sungguh cantik Rai.. benar-benar seperti malaikat. Setidaknya aku sangat senang karna sebelum kau pergi kau menemuiku lebih dahulu dan menghabiskan waktu bersama denganku..
Tidak ada lagi yang dapat kukatakan Rai. Disatu sisi aku memang kehilanganmu tapi disisi lain aku ingat perkataanmu bahwa aku tidak boleh menderita jika orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku, karena kau sebagai orang yang ku cintai akan selalu ada dihatiku.
Tidurlah dengan damai, bawalah seluruh kenangan kita bersama kepergianmu. Jangan pernah lupakan aku dari hidupmu. Tetaplah berada dihatiku selamanya, karena aku tidak akan pernah menghapusmu dari ingatanku.
Aku yakin Rai, seseorang yang mencintaiku telah menungguku diluar sana.. meskipun aku sekarang belum menemukannya, tapi satu yang pasti bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu...

Gadis itu memberikan kecupan lembut yang terakhir di pipi Niko tanpa sepengetahuannya. Ia menangis untuk yang terakhir kalinya dan terbang jauh menembus awan.
“Ko, aku minta maaf karna aku tidak bisa berada disismu selamanya sampai kapanpun seperti perkataanku, tapi aku akan selalu mengawasimu dari atas sini ko...aku akan menyaksikan sendiri kau bersama orang yang benar-benar kau cintai hidup berdampingan...rasanya aku tidak sabar menunggu akan hal itu..selamat tinggal Niko...”
Next Post Back to Top